Hari selanjutnya point kemandirian bagi Rauh harus selalu
diingatkan. Rauh seringkali lupa dia harus menyimpan baju kotor di mana. Saya pun
kerap memberitahunya dan mengingatkannya. Namun masalahnya dia tidak berani
untuk pergi ke dapur sendiri (tempat ember cucian berada). Akhirnya saya memberinya
kelonggaran untuk menyimpan terlebih dahulu di kamar sebelum disimpan ke tempat
cucian. Tapi akhirnya dia lupa juga membawa baju kotor itu ke tempat cucian. Saya
pun berkali-kali mengingatkannya.
Rabiza, adiknya berumur 5 tahun. Saya latih untuk bisa makan
sendiri. Awalnya dia sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan. Namun kadangkala
dia bermanja-manja dan saya menyuapinya hingga beres. Kali ini saya coba
komunikasikan kepada Rabiza, bahwa dirinya bukanlah bayi lagi yang harus
disuapi. Hari pertama setelah diberitahu begitu dia masih merajuk dan minta
disuapi lagi, dan saya masih menyuapinya lagi.
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#2
#2
Melatih kemandirian anak sebenarnya melatih saya juga untuk
memberikan teladan dan konsistensi. Melatih juga bagaimana komunikasi produktif
bisa diterapkan sehari-hari. Hal-hal yang harus diingatkan kadang membuat saya
jengkel, bagaimana bisa anak lupa tugasnya sedangkan saya harus mengingatkan
berkali-kali. Kondisi ini lambat laun menyebabkan komunikasi yang dilakukan
tidak produktif. Anak mungkin saja trauma atau malah tidak mau melakukan
pekerjaan tersebut. Akhirnya saya berusaha setenang mungkin dalam melatih
kemandirian anak. Seperti hari ini, dia lupa lagi di mana harus menyimpan baju
kotor. Sesaat sebelum berangkat sekolah saya bertanya, “Adakah yang belum rapi
di kamar ini?” dia segera merapikan buku-buku di rak. Saya bertanya lagi,
“masih ada yang tidak pada tempatnya?” Dia melihat ke sekelilingnya, dan dia
melihat baju kotornya masih berceceran di lantai. Akhirnya dia memunguti satu
persatu sambil menyeringai. Saya mengusap kepalanya sambil berkata, “ayo
bereskan, kita akan berangkat ke sekolah.”
Saya mungkin tidak terlalu memaksakan dan memasang target
berlebihan pada Rauh. Dalam perjalanan perkembangannya, dia tipe anak yang
melakukan keterampilan setahap demi setahap. Dan setiap keterampilan itu ia
jalankan dalam waktu yang cukup lama sampai dia bisa melakukan keterampilan
berikutnya. Hal ini yang harus selalu diingat oleh kami orangtuanya. Memahami
anak dan sabar dalam mendampinginya.
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#3
Latihan kemandirian bagi Rabiza (5 tahun) adalah mampu makan
sendiri. Sebenarnya dia sudah mampu melakukannya sendiri. Namun kadang-kadang
dia bermanja-manja dan meminta saya untuk menyuapinya. Nah, masalahnya saya
selalu menuruti kemauannya sampai makanannya habis. Setelah mendapat materi ini
saya belajar konsisten untuk tidak menyuapinya meskipun merajuk berkali-kali.
Seperti hari ini dia merajuk seperti biasa, saya katakan “makan sendiri yaa,”
Dia tambah merajuk. Saya membiarkannya dan tidak berkomentar apapun, makanannya
belum juga disentuh. Ayahnya berkomentar, “Ayo dimakan,” dia tambah merajuk
dengan terus meminta saya untuk menyuapinya. Saya berstrategi untuk menyuapi
pada suapan pertama dan berakting seolah-olah lupa pada suapan berikutnya.
Dikarenakan dia sudah mencicipi makanannya dan ketagihan, terlebih saya “lupa”
menyuapinya, akhirnya dia makan sendiri sampai makanannya habis.
Keterampilan bagi Rauh, kakaknya masih seputar menyimpan
baju kotor pada tempatnya. Sempat saya lupa mengecek kamarnya. Alhasil baju
kotornya disimpan di kasur dan bercampur dengan pakaian bersih. Saya
menjelaskan, jika baju kotornya tercampur dengan baju bersih yang belum
dipakai, nanti kotoran dan baunya nempel kemana-mana. (Masih dengan nada datar)
saya berkata, “Ayo latihan lagi, simpan baju kotor di tempat cucian.”
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#4
Ada yang menarik ketika latihan kemandirian ini dilakukan.
Rabiza saya latih untuk bisa makan sendiri tanpa disuapi lagi, sedangkan Rauh
kakaknya, bisa menyimpan baju kotor di tempat cucian tanpa diingatkan lagi.
Latihan ini dimulai dari tanggal 26 Februari 2017. Seminggu lebih keterampilan
ini dilakukan, namun Rauh hanya bisa melakukan dua kali tanpa disuruh atau
diingatkan. Sedangkan Rabiza, dia justru mengikuti latihan kemandirian
kakaknya. “Ma, abiza udah bisa simpan baju kotor di tempat cucian,” katanya
suatu hari. “Oya, abiza hebat.” Pujiku. Ini yang menjadi keunikan Rabiza, dia
bisa belajar dengan hanya melihat dan memperhatikan lingkungan sekitar. Setiap
kali saya mendampingi kakaknya untuk belajar, dia diam-diam memperhatikan dan
melakukan keterampilan tersebut keesokan harinya. Meskipun begitu saya tetap
mendampingi Rabiza dan menemani waktu bermainnya. Saya mengingatkan pada setiap
kali makan untuk tidak disuapi lagi. Nah keterampilan ini agaknya susah
dilakukan oleh Rabiza. Mungkin saya kurang mengapresiasi ketika dia bisa makan
sendiri tanpa disuapi. Oke selanjutnya menjadi tantangan bagi saya untuk
mengapresiasi setiap aktifitas anak-anak.
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar