Jumat, 03 Maret 2017

Melatih Kemandirian Anak

Hari selanjutnya point kemandirian bagi Rauh harus selalu diingatkan. Rauh seringkali lupa dia harus menyimpan baju kotor di mana. Saya pun kerap memberitahunya dan mengingatkannya. Namun masalahnya dia tidak berani untuk pergi ke dapur sendiri (tempat ember cucian berada). Akhirnya saya memberinya kelonggaran untuk menyimpan terlebih dahulu di kamar sebelum disimpan ke tempat cucian. Tapi akhirnya dia lupa juga membawa baju kotor itu ke tempat cucian. Saya pun berkali-kali mengingatkannya.
Rabiza, adiknya berumur 5 tahun. Saya latih untuk bisa makan sendiri. Awalnya dia sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan. Namun kadangkala dia bermanja-manja dan saya menyuapinya hingga beres. Kali ini saya coba komunikasikan kepada Rabiza, bahwa dirinya bukanlah bayi lagi yang harus disuapi. Hari pertama setelah diberitahu begitu dia masih merajuk dan minta disuapi lagi, dan saya masih menyuapinya lagi.
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#2

Melatih kemandirian anak sebenarnya melatih saya juga untuk memberikan teladan dan konsistensi. Melatih juga bagaimana komunikasi produktif bisa diterapkan sehari-hari. Hal-hal yang harus diingatkan kadang membuat saya jengkel, bagaimana bisa anak lupa tugasnya sedangkan saya harus mengingatkan berkali-kali. Kondisi ini lambat laun menyebabkan komunikasi yang dilakukan tidak produktif. Anak mungkin saja trauma atau malah tidak mau melakukan pekerjaan tersebut. Akhirnya saya berusaha setenang mungkin dalam melatih kemandirian anak. Seperti hari ini, dia lupa lagi di mana harus menyimpan baju kotor. Sesaat sebelum berangkat sekolah saya bertanya, “Adakah yang belum rapi di kamar ini?” dia segera merapikan buku-buku di rak. Saya bertanya lagi, “masih ada yang tidak pada tempatnya?” Dia melihat ke sekelilingnya, dan dia melihat baju kotornya masih berceceran di lantai. Akhirnya dia memunguti satu persatu sambil menyeringai. Saya mengusap kepalanya sambil berkata, “ayo bereskan, kita akan berangkat ke sekolah.”
Saya mungkin tidak terlalu memaksakan dan memasang target berlebihan pada Rauh. Dalam perjalanan perkembangannya, dia tipe anak yang melakukan keterampilan setahap demi setahap. Dan setiap keterampilan itu ia jalankan dalam waktu yang cukup lama sampai dia bisa melakukan keterampilan berikutnya. Hal ini yang harus selalu diingat oleh kami orangtuanya. Memahami anak dan sabar dalam mendampinginya.
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#3

Latihan kemandirian bagi Rabiza (5 tahun) adalah mampu makan sendiri. Sebenarnya dia sudah mampu melakukannya sendiri. Namun kadang-kadang dia bermanja-manja dan meminta saya untuk menyuapinya. Nah, masalahnya saya selalu menuruti kemauannya sampai makanannya habis. Setelah mendapat materi ini saya belajar konsisten untuk tidak menyuapinya meskipun merajuk berkali-kali. Seperti hari ini dia merajuk seperti biasa, saya katakan “makan sendiri yaa,” Dia tambah merajuk. Saya membiarkannya dan tidak berkomentar apapun, makanannya belum juga disentuh. Ayahnya berkomentar, “Ayo dimakan,” dia tambah merajuk dengan terus meminta saya untuk menyuapinya. Saya berstrategi untuk menyuapi pada suapan pertama dan berakting seolah-olah lupa pada suapan berikutnya. Dikarenakan dia sudah mencicipi makanannya dan ketagihan, terlebih saya “lupa” menyuapinya, akhirnya dia makan sendiri sampai makanannya habis.
Keterampilan bagi Rauh, kakaknya masih seputar menyimpan baju kotor pada tempatnya. Sempat saya lupa mengecek kamarnya. Alhasil baju kotornya disimpan di kasur dan bercampur dengan pakaian bersih. Saya menjelaskan, jika baju kotornya tercampur dengan baju bersih yang belum dipakai, nanti kotoran dan baunya nempel kemana-mana. (Masih dengan nada datar) saya berkata, “Ayo latihan lagi, simpan baju kotor di tempat cucian.”
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
#4

Ada yang menarik ketika latihan kemandirian ini dilakukan. Rabiza saya latih untuk bisa makan sendiri tanpa disuapi lagi, sedangkan Rauh kakaknya, bisa menyimpan baju kotor di tempat cucian tanpa diingatkan lagi. Latihan ini dimulai dari tanggal 26 Februari 2017. Seminggu lebih keterampilan ini dilakukan, namun Rauh hanya bisa melakukan dua kali tanpa disuruh atau diingatkan. Sedangkan Rabiza, dia justru mengikuti latihan kemandirian kakaknya. “Ma, abiza udah bisa simpan baju kotor di tempat cucian,” katanya suatu hari. “Oya, abiza hebat.” Pujiku. Ini yang menjadi keunikan Rabiza, dia bisa belajar dengan hanya melihat dan memperhatikan lingkungan sekitar. Setiap kali saya mendampingi kakaknya untuk belajar, dia diam-diam memperhatikan dan melakukan keterampilan tersebut keesokan harinya. Meskipun begitu saya tetap mendampingi Rabiza dan menemani waktu bermainnya. Saya mengingatkan pada setiap kali makan untuk tidak disuapi lagi. Nah keterampilan ini agaknya susah dilakukan oleh Rabiza. Mungkin saya kurang mengapresiasi ketika dia bisa makan sendiri tanpa disuapi. Oke selanjutnya menjadi tantangan bagi saya untuk mengapresiasi setiap aktifitas anak-anak.
#level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian

#5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar